Hello world !
Pagi ini, 0715am, gw baca sesuatu yang indah banget. Dari buletin seorang teman. *U may visit his blog*. Sebenarnya gak gw banget ngopy - paste punya orang. Gw kan orangnya orisinil :) Tapi kali ini exceptional case. It’s spirit gw banget gitu loh
Sebenarnya gw sering menghindar baca yang beginian. Gak tahan aja. Plz enjoy reading it yaa…
………………………………………………………………………………….
Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian
layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya. Jawaban itu boleh
jadi karena pengaruh ide materilistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya
dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah
angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk
material.
Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasaan berkeliling ke berbagai panti
asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan
dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan
panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan
yang diperlukan. Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu
dengan seorang bocah bernama Nina.
"Nina, apa yang anakku mau sayang" begitu ayah saya membuka percakapan.
"Nina mau baju baru?, sepatu baru?, tas baru? Atau apa nak? tambah ayah saya.
"Nggak ah… ntar om marah" jawab Nina.
"nggak sayang, om tidak akan marah" ayah saya menimpali. "Nggak ah… ntar om marah"
Nina mengulang jawabannya.
Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan
orang tua saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, "ayo nak
katakan apa yang kamu minta sayang" "Tapi janji ya om tidak marah" jawab Nina manja.
"Om janji tidak akan marah sayang" tegas ayah saya. "Bener om tidak akan marah"
sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk
tidak marah.
Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, apa gerangan
yang diminta oleh Nina. "Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia
harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah' pikir ayah saya. Sambil tersenyum
orang tua saya mengatakan "ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak."
Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata; "bener ya om tidak marah."
Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala. Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina
mengajukan permintaanya "om, boleh nggak saya memanggil ayah" Mendengar jawaban
itu, tak kuasa ayah saya membendung air matanya. Segera dia peluk Nina
dan mengatakan " tentu anakku.. tentu anakku…mulai hari ini Nina boleh memanggil
ayah, bukan om" Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata "terima
kasih ayah… terima kasih ayah…
Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu
beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan
sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata
kepada Nina "anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama
ibu, apa yang kamu minta nak?" "Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah"
sergah Nina.
"Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau
yang lain, pasti akan ayah kasih." Sambil memegang tangan ayah saya, Nina memohon
"nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya minta ayah bawa foto bareng ayah,
ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?"
Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina.
Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; "buat apa foto itu nak?" Tanpa ragu Nina menjawab
"Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini
ibu Nina, ini kakak-kakak Nina." Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia
tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu.
Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami
tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan
dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan anda akan lebih
bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia. [
]