Orangorang Tunis (1)
September 30, 2006 by rebornsonny
Di tahun pertama di Gontor, semasa statusku masih calon pelajar, kakak mengajakku ke Gedung Tunis lantai II. Aku bertemu dengan banyak temanteman kakakku. Aku belajar menghadapi ujian masuk di beranda ITQAN, sendirian di tengah kesibukan temanteman kakakku menerbitkan Jurnal Syawwal Pos. Sejak itu aku mengenal mereka sebagai orangorang Tunis. Kata Tunis selalu identik dengan lantai II bukan lantai I dimana Bagian Fotografi dan Fotokopi OPPM berkantor. Saat itu, 1993, di Tunis hanya ada Kamar I–tempat mangkalnya anakanak Teater Islam Darussalam (TERISDA), anakanak Asosiasi Kaligrafi Darussalam (Aklam), dan anakanak seniman multitalenta LIMIT–dan kamar 3 tempat kantor majalah ITQAN. Kamar 2 saat itu masih merupakan gudang Koperasi Pelajar OPPM yang terletak persis di belakang Gedung Tunis.
Kakakku sendiri saat itu adalah panutan bagiku. Ia menulis dengan baik. Tapi kecenderungan utamanya ada pada dunia seni. Tulisan latin dan arabnya sama bagusnya. Ia biasa membuat spanduk, kaligrafi dan balihoo. Di kepanitiaan bulan Syawwal dan begitu juga dengan kepanitian Pagelaran Seni Panggung Gembira 694, kakakku ditunjuk di Bagian Seni. Saat pertama kali bertemu kakakku tanggal 5 Syawwal 1413 H, kaos yang dikenakannya penuh dengan cat air.
Sejak itu Tunis adalah bagian dari mimpiku. Menjadi bagian dari orangorang Tunis rasanya menyenangkan. Terutama menjadi penghuni kamar 3, kantor penerbitan majalah ITQAN.
ITQAN sendiri mempunyai Majalah Dinding ilmiah (bukan pemberitaan) Ulul Albab tempat mereka menggembleng anggota junior menulis. ITQAN juga mengadakan diskusi mingguan al-Hambra di Masjid Pusaka, masjid yang lebih tepat dikatakan langgar, cikalbakal berdirinya Gontor. Juga di kepanitiaan bulan Syawwal, secara bergantian atau bersama-sama dengan Kantor Berita Mingguan "Darussalam Pos" menukangi Jurnal Harian Syawwal Pos. Belakangan, di Tahun 1995, ketika Annida mulai terbit dan tren cerpen islamy mewabah, ITQAN mengadakan sayembara menulis cerpen yang kemudian cerpen-cerpen terbaiknya diterbitkan dalam sebuah majalah bernama AFKARI. (Terjemahannya: imajiku) Yang pasti, kecuali aktivitas desain komputernya, aktivitas penerbitan majalah ringan ini ditangani oleh anggota kelas 5 sebelum kemudian di kelas 6 mereka diserahi tanggung jawab menukangi majalah ITQAN.
ITQAN boleh dikata organisasi yang begitu baik dalam hal kaderisasi kompetensi penerbitan, bukan pemberitaan atau pemikiran. Pemberitaan sendiri boleh dikata competitive advantage-nya anakanak Darussalam Pos. Dalam hal pemikiran memang 4 - 6 anak ITQAN sepanjang 1995 - 1998 yang kukenal cukup menonjol. Mereka tumbuh karena aktivitas intelektual pribadi, bukan karena adanya kaderisasi pemikiran di ITQAN. Termasuk diantaranya Nur Hizbullah yang radikal dalam berpikir tapi menulis cerpen / puisi dengan gaya sufistik; Anang Rikza, kakaknya Anizar yang artikulatif, dan kakak beradik anak kyai dari Madura (i’ve bad memory on names).
Tapi kemudian di pertengahan 1995, bertempat di kamar 2, FP2WS yang memilih hanya berdiskusi dan menulis ‘mengambil alih’ kompetensi di dunia pemikiran. Yusuf BZ yang seangkatan dengan NurHizbullah (695) merupakan mentor luar biasa. Belakangan aku menyadari bahwa wacana-wacana yang diangkat dalam diskusi FP2WS begitu luarbiasa hingga di IAIN sendiri hanya segelintir minoritas yang membicarakannya.
Sayangnya, tidak seperti ITQAN dan DP, FP2WS lemah dalam hal kaderisasi dan administrasi organisasi. Tapi ada satu semboyan spektakuler anakanak FP2WS. Ustadz Yusuf BZ (actually i prefer calling him "Ucup" and i think egalitarian guy like him will be conform with that) pernah bilang: "Meski kita hanya diberi kamar 2 x 3,5, hanya 1/5 dari luas sebenarnya, ingatlah selalu bahwa negara Cina yang sebesar itu sebenarnya dimulai dari kamar sebesar ini. Partai Komunis Cina dulunya hanya tempat berdiskusi orangorang muda yang kemudian berhasil menumbangkan the last emperor".
Belakangan, masih di tahun 1997, waktu aku dan temanteman FP2WS mengadakan ekspedisi ilmiah ke Pesantren DaarutTauhid, aku dengar bahwa ternyata Aa Gym memulainya dari pengajian mingguan di salah satu kontrakan sempit di Gegerkalong. Creative minority is worthy than floating mass.
1995, di awal semester genap, masa di mana, berbagai organisasi di Gontor mulai merekrut anakanak kelas 3 untuk dikader dalam organisasinya, mulai dari Gerakan Pramuka, Aklam, Limit, Gastrada (handycraft), DP, Bagian Penerimaan Tamu, Pustaka OPPM, Pustaka Darussalam, Pustaka ISID dan termasuk ITQAN, aku menunggu dengan penuh harap. Ternyata namaku tak dipanggil ITQAN. Track recordku sebagai Juara I Lomba Cerpen ITQAN ternyata tidak cukup meyakinkan kakakkakak di ITQAN. Mungkin karena aku "sighar", terlalu muda secara umur bagi ITQAN.
Satusatunya sighar yang terpanggil hanya si genious-freak-nerd Ali Busthomi, teman sekelasku. Belakangan aku menyadari bahwa di tahap awal kaderisasi, ITQAN dan banyak organisasi lainnya, gagal menjaring banyak talenta. Jenius secara akademik bukan jaminan bahwa seseorang bisa match dengan bidang tertentu.
And good news came from Pustaka OPPM. Aku dipilih menjadi asisten Pustaka OPPM. Bukan pustaka yang besar memang, hanya punya kira-kira 1000-an judul buku, tapi akses 24 jam ke bukubuku–di saat peminjaman buku tidak diperkenankan di Gontor atas berbagai alasan–adalah hadiah terbaik dalam hidupku. Juga langganan eksklusif 3 majalah nasional (Gatra, Ummah, Hidayatullah) dan 2 koran nasional (Republika, Jawa Pos) plus 300-an judul buku yang ditambah tiap tahun serta 5-7 judul buku yang dibeli setiap bulan dari TB Latans.
Dan privilleges seperti izin gak ikut muhadloroh, gak ikut lari pagi dlsbg tentu saja merupakan prestise tersendiri bagi anakanak seumuranku. (Lain kali aku akan cerita tentang kehidupanku di Pustaka OPPM)
1996, di semester ganjil, sebuah surat dari Tunis datang padaku memintaku datang. Tentu saja itu momen yang menyenangkan. Akhirnya setelah hanya menjadi anggota biasa TERISDA, aku menjadi anggota ITQAN. I am a Tunisian, now!
Dan harihari antara pustaka OPPM di Pendopo dan ITQAN di Tunis aku jalani dengan senang. Boleh dikata dua area ini cukup "steril." Steril dari beberapa disiplin/aturan yang membosankan. Meski ITQAN statusnya "swasta," Non Government Organization atau lebih tepatnya Non-OPPM organization, tapi senior-senior yang ada di dalamnya adalah orang-orang yang disegani di angkatannya. Karenanya junior sepertiku merasa bebasbebas saja ngobrol dalam bahasa Indonesia meskipun terlarang. Tidak satupun penegak aturan yang berani menginjakkan kakinya ke Tunis kecuali para ustadz tentunya.
1997, sepertinya semua hal di ITQAN, kecuali keterampilan menggunakan AdobePageMaker 5.0 untuk mendesain majalah, sudah kukuasai. Sejalan dengan intensitasku membaca secara "hati-hati" tiap detail "Catatan Harian Ahmad Wahib" (Kubeli di TB La Tansa milik Gontor di Ponorogo), aku dilanda kebosanan dengan semua rutinitas penerbitan. Gagasan Wahib seputar pembaharuan pemikiran memang tidak begitu menarik hatiku, tapi gagasan Wahib seputar gerakan, intelektualisme vs aktivisme, kepemimpinan intelektual, creative minority, solidarity maker, dan banyak hal lainnya amat menarik perhatianku.
Serta merta aku menjadi tertarik dengan kegiatan FP2WS di kamar 2. Aktivitas mereka memang terbilang tidak wah, hanya lesehan, duduk, diskusi dan bubar. Tidak ada penerbitan majalah bertiras 1000-an atau majalah bertiras 2500 eksemplar, tidak ada peluang pergi ke berbagai pesantren memasarkan majalah. Yang ada hanya bukubuku, papan tulis yang memenuhi dinding, secerek kopi panas, udara yang penuh dengan asap rokok dan makanan ringan. Hanya ada keseriusan dan tawa berderai. Lepas dan mengalir. Agree to disagree.
Suatu malam, ketika anggota diskusi meluber hingga ke beranda, aku memberanikan diri untuk duduk sebagai pendengar. Tidak tahunya aku diminta duduk di dalam. Sejak itu aku memulai hidupku di FP2WS. Rupanya dari sekian anggota, cuman aku yang paling muda (dan imut?). Lainnya anakanak Kibar, yang umurnya rata-rata 2 tahun diatasku, bahkan ada yang tamat SMA trus nyantri. Juga ada seorang tamatan S1. Maklum, diskusi kelas berat !
Sedikit demi sedikit aku meninggalkan banyak rutinitasku di ITQAN. Dan itu membuat para seniorku di ITQAN agak jengkel dan kemudian memecatku. Tapi tetap saja hubunganku dengan teman-teman seangkatan dan para junior berjalan baik. Tahun berikutnya, ketika para senior sudah tamat, aku dengan leluasa keluar-masuk ketiga kamar di Gedung Tunis. Saat itu aku juga menjadi pengurus OPPM Bagian Pustaka. Life is so beautiful !
ehmm…
jadi kangen temen-temen tunis neh!
anyone of you, please add me on YM & friendster (goofy10582@yahoo.com)
thanks
Weleh….weleh………… jadi inget waktu di tunis nich………………tmn2 dah ilang kabar smua…………ngiler mo reunian deeeeeeeeeech…………
Tunis…..
sebuah gedung dengan penuh gagasan dan imajinasi anak muda…
segala pergerakan seni, pikiran dan tulisan Santri berawal dari gedung “tua” yang sudah reot dimakan zaman..
hmmm……semangat ane untuk masuk pondok pun berawal dari mading2 yang berada di samping tangga gedung tunis…
walaupun dikemudian hari tidak merasakan “kesakralan” gedung itu….ana tetap bangga akan gedung yang berdiri kokoh di hamparan halaman Masjid nan suci…
Graduate of Limit fans club