everyone loves Fatimah
October 9, 2006 by rebornsonny
Bagi yang pernah nyantri di dekade 80an mungkin mengingatnya sebagai kanakkanak yang lucu dan menggemaskan. Bagi yang pernah melihatnya di awal 90an, akan mengenangnya sebagai gadis lincah yang mulai beranjak dewasa. Aku hanya pernah sekilas melihatnya. Cantik memang. Tapi para santri seringkali membandingbandingkannya dengan saudarinya Afifah aliat pipit yang konon lebih cantik, pintar dan kalem. Jarang memang bisa melihat kedua pasang dara itu. Keduanya hampir seumur denganku dan tentu saja bersekolah di Gontor Putri Mantingan yang berjarak 100 km dari Gontor Putra. Lagian rumah Kyai Syukri tidak persis di dalam kampus Gontor. Kalau bisa melihat si Fatimah paling karena ia menyambangi ayah - ibunya di "rumah dinas" pimpinan pondok di tengah areal kampus.
Aku sendiri tidak pernah melihat Afifah, seberapa cantik sih. Kurasa Fatimah mungkin tidak terlalu senang dibandingbandingkan dengan saudari tirinya itu. Afifah anak dari perkawinan pertama Kiai Syukri Zarkasyi dengan seorang gadis Aceh. Konon perkawinan itu kandas karena ibunya Afifah tidak mau tinggal di pondok. Dalam keluarga pendiri Gontor, terutama keluarga (alm) Kiai Zarkasyi, mungkin kepentingan pondok tampaknya di atas segalagalanya. Tak heran hampir semua anakanak beliau mengabdikan hidupnya di Gontor.
Hingga Afifah, cucunya. Afifah sudah menikah dengan Adib, seniorku di ITQAN. Gak jauhjauh. Kalau takdir bergeser sedikiiiit saja, mungkin aku yang akan menikah dengan Afifah :)
Saat ini pasangan muda ini sedang melanjutkan studi bidang Islamic Studies di International Islamic University of Islamabad, Pakistan.
Menikahi anak kyai Gontor, pada satu sisi, mungkin suatu berkah. Tapi bisa jadi pernikahan itu seperti naskah hidup yang selesai begitu saja. Semua orang termasuk si mempelai pria akan tahu akhir ceritanya: mengabdikan hidup di Gontor. Is it happy ending? or sad ending? or happy but boring ending ?
Tidak ada yang salah dengan "mengabdi di Gontor." Hanya saja bagi anakanak Gontor yang berjiwa kosmopolit, orangorang yang berpikir tidak hanya pulaupulau lain yang dekat, tapi juga continent continent lain cuman tetangganya, akan merasakan bahwa "mewakafkan hidup" di Gontor menghilangkan banyak kesempatankesempatan. Kesempatan untuk menikmati hidup sebagai orang biasa saja, lepas dari label Gontor. Kesempatan untuk melirik banyak gadis, sebelum akhirnya memilih. Kesempatan untuk memilih kuliah di fakultas umum. Kesempatan untuk "memilih sendiri" takdir hidup. Dan ada juga olokolok mengatakan bahwa untuk menikahi anak kyai Gontor, selain orangnya memang harus pilihan, juga harus telah hapal Kamus Oxford atau Munjid Araby
Tapi bila para santri melihat Fatimah, keriangannya yang membinar di matanya, gaya bicaranya yang lepas, mungkin semua pertimbanganpertimbangan soal betapa membosankannya ending, pupus sudah. Ia memang tidak begitu cerdas, tapi dalam dirinya jiwa kanakkanak selalu hidup. Kurasa semua orang menyukainya. Atau setidaknya selalu mengenangnya
Hingga ketika Fatimah sedang melanjutkan studi S2-nya ke Malaysia, di Agustus 2003 terdengar kabar dari salah seorang alumni bahwa ia pernah melihat gadis yang beranjak dewasa ini berjalan berduaan dengan seorang pemuda yang bukan muhrimnya. Berita itu membuat ribut jagad milis gontorians. Semua orang dari berbagai angkatan, mulai dari tuatua hingga yang memang pernah melihat Fatimah semasa nyantri di Gontor ikutan urun bicara. Dan akhirnya Fatimah pun menulis surat pembelaan dirinya. Garis besarnya meski ia mengatakan punya banyak teman perempuan dan lakilaki, tapi ia menyangkal semua tuduhan bahwa ia berpacaran. Yang menarik bagiku bukan sangkalan itu, tapi nada tulisan Fatimah yang begitu tajam dan terus terang. Aku tidak tahu apakah ia menulisnya dengan airmata atau menulisnya dengan geram. Aku hanya tahu bahwa ia gadis periang.
Well, everybody loves Fatimah…
Ah, gontor masih meninggalkan banyak hal di kepala-dan-hatimu. Sempat-sempatnya kau tuliskan hal seperti ini….. :))
Allahumah timna minal ma’had bihamli Faatimah
or bihusnil khotimah
@hendri: hahaha.. ngakak berat nih. Kalo bi-hamli mbok-e sih bs bs aja
@swanvri: ya iya donglaaah. Fatimeeeh gitu lho
Wah, gue udah lupa, Fatimah itu kayak mana rupanya…
Sad ending, happy ending or boring ending? Ah, ente bisa aja. Kalau mereka yang mewakafkan dirinya membaca paling mereka berkata,”Ane bahagia kok”. Di sini semuanya ada. Mau sekolah gratis, dsb.
Halo sonny, I love the title, the content and the ending. Sweet. Aku menyaksikan dia ketika masih gadis cilik yang suka berlari-lari di depan qoah bersama anak-anak ustad hasan.