Mantingan - Medio ‘99
October 7, 2006 by rebornsonny
Aku masih ingat harihariku di Mantingan. Bangun di subuh yang berkabut, berjalan menuju mesjid Dadung yang tak jauh dari komplek Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat (PLMPM) < http://gontor.ac.id/file/viewpage.php?page_id=26 >
Bagi sebagian orang, mesjid itu tampak seperti langgar. Tapi kalau ingin bertanya seberapa penting mesjid dusun Dadung, tanyakan ke peziarah makammakam para sunan yang selalu menyempatkan diri berhenti, shalat dan ngaso. Mungkin karena letaknya di jalan lintas Surabaya - Solo. Mungkin karena lantainya yang selalu bersih, halamannya yang lumayan luas untuk dijejali 2 - 3 bus. Mungkin karena toilet dan tempat wudhunya yang bersih dan airnya yang lancar serta kapasitasnya yang cukup bagi para musafir. Mungkin karena banyaknya warungwarung kecil yang menjajakan makanan. (Warung atau peziarah sih yang duluan ada ?)
Tapi kalau kalian tanyakan padaku, dengan lugas aku akan menjawab: "Mungkin karena Sunan ke-10 dimakamkan disini !" Dasar orang Jawa. Sesulit apapun hidup, mereka masih saja mau menyisihkan sebagian rezkinya "cuman" untuk jalanjalan liat makammakam para sunan, dari Surabaya sampai Cirebon.
Aku masih ingat harihariku di Mantingan. Udara yang sejuk ditambah angin semilir. Kalo ngidul tampak Gunung Lawu yang puncaknya hampir selalu tertutup kabut. Kalo ngalor sekitar 3 km, akan ketemu aliran Bengawan Solo yang bermuara entah dimana. Kalo ke barat 6 km ketemu deh jembatan yang misahin Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dan jangan takut kalo jalanjalan di jembatan itu. Dijamin gak ada yang nanyain paspor dech.. ( Nah lho apa hubungannya ya..) Kalo jalan ke timur 34 km ketemu deh ama kota Ngawi. ( Menarik juga untuk diteliti bahwa orang Jawa amat concern dengan arah mata angin: utara, selatan, timur dan barat. Kalo orang minang paling cuman hilir dan mudik. Geopolitik orang minang hanya membagi daerah berdasarkan arus sungai. Antara tradisi orang pegunungan dan tradisi orang pesisir. Jadi, Orang Jawa boleh dibilang mempunyai tradisi geopolitik yang lebih kuat !)
Aku masih ingat harihariku di Mantingan. Bagiku itu harihari yang teramat mengesankan. Meski cuman 6,5 bulan menjadi mahasiswa PLMPM (lebih tepatnya trainee) Angkatan XI tapi banyak dari kami yang hanya berjumlah 12 orang itu mengatakan bahwa 6,5 bulan di PLMPM lebih berarti dari 6 tahun di Gontor. Harihari kami lalui bersama. Pernah kami bersamasama menyusuri 200 ha tanah wakaf Gontor di Mantingan, melewati persawahan yang mungkin berakhir di kaki Lawu dan dibelah oleh jalan kereta api Madiun - Jogja, ladangladang semangka dan melon, telaga kecil yang bening airnya, hutan Jati dengan pepohonan rindang yang lurus menjulang, dan berakhir di jalanjalan desa yang berdebu dan penuh kerikil.
Aku masih ingat saatsaat kami berlari pagi, seperti mengulang masamasa sewaktu menjadi santri dulu. Diantara kami ada tiga bindep, Asko, Pakpahan dan Mustaqim alias Gembol, yang mengomandoi yel yel. (Biasanya 1 bindep mengomandoi 500-an orang, apa jadinya coba kalo 3 bindep mengomandoi cuman 9 orang). Melewati jalan besar Lintas Jawa di pagi buta, melambat ketika melewati kampus Gontor Putri sambil melihat gadis gadis yang asyik mendaras bukubuku di balik pagar dan tentunya lebih bersemangat beryel yel, keluar masuk desa, dan lagilagi berakhir di dapur mbok minah.
Aku masih ingat pada mbok minah dan persistensinya di dapur seolah-olah ia memasak untuk anakanaknya sendiri. Aku masih ingat wajah tua yang senang bercanda itu, padahal hidup tidak begitu mudah baginya. Aku masih ingat ketika kita menggoda anak gadisnya yang pemalu itu. Aku masih ingat ketika kami datang ke rumahnya yang sederhana itu. Yang ada hanya sepi.
Aku masih ingat ketika kami bermain basket bersama. Terkadang bermain bola plastik di lapangan semen di areal PLMPM dengan anakanak kampung yang usianya 4 - 6 tahun lebih muda dari kami. Dan dengan amat sukses kami kalah ! ( No apologies.. ) Aku masih ingat terkadang kami bermain bola dengan pemudapemuda desa di tanah lapang dan konyolnya hampir selalu menang.
Aku masih ingat dengan si kembar Dwi dan Tri anak penjual makanan di depan Masjid Dadung. Gadisgadis yang paling pertama kami kenal selepas Gontor. (Katanya sih.. milik bersama
Dwi yang aktif serta Tri yang imut dan kalem. Terkadang selepas kuliah.. entah pagi..entah siang..entah malam.. nongkrong di warungnya kecilnya, sekedar ingin ngobrol dengan si kembar sembari mencomot 2 - 3 tahu atau bakwan. Dengan bahasa Indonesia atau bahasa nJerman (baca: nJawa) yang ancur abis.
Aku masih ingat Jumat pagi di depan PLMPM yang berubah menjadi pasar kaget. Jumat adalah hari libur bagi Pondok Gontor Putri yang jaraknya cuman 100m sebelah Timur PLMPM. Banyak gadisgadis berjilbab dengan sepeda jenky belanja penganan di pasar kaget nDadung itu. Rupanya para ustadzah Mantingan yang emang diperbolehkan jalanjalan di pedesaan Mantingan hanya pada Jumat pagi.
Tapi emang seberapapun dekatnya jarak fisik kami dengan mereka tetap saja untouchable. Walhasil yah nimbrung juga beli penganan tanpa bisa bilang : hai apa kabar? namanya siapa, darimana? What a damn situation! Ada aturan tak tertulis yang harus dihormati.
Aku masih ingat dengan istrinya ustadz Imam Sobari. Terkadang kami menonton tv di ruang tamu rumahnya yang merangkap kantor itu. Dan beberapa makanan kecil keluar begitu saja dari rumahnya. Aku masih ingat dengan tutur kata dan gerak geriknya yang halus : perlambang sempurna kelembutan yang amat Jawa.
Aku masih ingat dengan pemudapemuda desa Ganggang itu. Hadi, Anto, mBudi dkk. Suatu kali mereka mengajakku dan Pakpahan jalan jalan ke kaki Lawu dengan konvoi motor hingga mendaki suatu lereng yang penuh dengan pepohonan pinus. Indah sekali melihat cahaya matahari yang dipendarkan dedaunan itu.
Aku masih ingat betapa hidup tidak mudah bagi mereka. Pemudapemuda di sepanjang jalan lintas Jawa. Ditarik oleh magnitmagnit urban. Bagi mereka sekolah hanyalah sampai menengah atas. Pilihanpilihan hanyalah antara sawah yang tak seberapa luasnya, merantau ke kota besar tanpa keterampilan apapun, atau menggadaikan segalanya demi menjadi TKI.
Aku masih ingat dengan Siti, si cantik yang akhirnya memutuskan berjilbab. Hidup antara sawah, langgar dan rumah mengurus adikadiknya–membuatnya tampak lebih dewasa dari umurnya–sembari berharap kakaknya pulang entah dari perantauan mana. Aku masih ingat dengan Sulis yang pinter menjahit, berbapakkan Jawa yang tak jelas agamanya dan ibu peranakan Tionghoa yang Katolik. Aku mengenalkan Sulis pada bukubuku dari pustaka PLMPM yang kecil tapi amat kaya, membuatnya lebih nyaman menjadi muslimah. Tapi hidup tidak mudah baginya hingga akhirnya memutuskan menikah dan tinggal di kota bersama suaminya.
Aku masih ingat dengan anakanak TPA desa Ngrancang yang kuajar. Masih pedagogis tapi cukup interaktif. Wajahwajah polos yang bersemangat ! Tampaknya apa yang dulu diajarkan saat pembekalan sebelum yudisium kelas enam amat berharga. They are tought by the right hand with the most recent and sophisticted learning technology
Aku masih ingat suasana kelas PLMPM. Hanya ada 12 trainee. Terkadang susunan meja dan kursi berbentuk letter U, terkadang tanpa meja, terkadang membentuk dynamic groups (kerja kelompok) atau terkadang melakukan beberapa simulasi in-class dan out-class. Tiada hari tanpa OHP. (Mungkin saat ini sudah pake LCD projector).
Tidak ada istilah pengajar dan diajar. Yang lebih tahu dan yang tidak tahu. Untuk pertama kalinya semua prinsipprinsip pendidikan pedagogis yang tertanam di otak kami dihancurkan. Brainwashing. Berkenalan dengan pikiranpikiran andragogis-nya Paulo Freire. Peda berarti anakanak, gogy berarti pendidikan. Sebaliknya, Andra berarti orang dewasa. Pola pendidikan yang diterapkan adalah pola andragogy dengan sedikit modifikasi dan akomodasi terhadap kultur pesantren.
Dan hasilnya amat mengejutkan. Mereka yang biasanya ngantukan saat diskusi mingguan di Gontor menjadi aktif berdiskusi. Terkadang melontarkan pikiranpikiran liar dan aku juga dibuatnya terkejutkejut. Out-of-the-thought, out-of-the-box! Mereka yang di Gontor lebih tahu seberapa bundarnya bola basket atau bola kaki, atau lebih pinter membuat pioneering dari tongkattongkat pramuka, atau lebih tahu seberapa halus denting suatu senar gitar, seberapa baik denting piano atau drum, menjadi amat aktif di ruang kelas. Hubungan dua arah dengan fasilitator, lontaran pendapatpendapat, argumenargumen, kritikkritik yang berhamburan. No rules is the rules. Rules isn’t created by classical methodology of learning, or not created by Ta’limul Mutallim yang masih dipegang banyak pesantren NU. Rules of learning is created by design, by social contract between us, created by what we agree about what we call as "recent need". Tidak mudah menerapkan pikiranpikiran Freire dalam dunia pendidikan. Tapi at least, hasilnya amat sepadan dengan kesulitankesulitan yang dihadapi.
Fasilitatornya adalah orang terbaik di bidangnya. Ada dosen UMS Solo yang bicara soal agama dan perubahan sosial, ideologiideologi dunia, kapitalisme vs sosialisme. Ada juga dosen UNS Solo yang ngajarin metode akuntansi sederhana. Ada juga orangorang LSM yang bicara soal dunia LSM. Ada juga tim fasilitator yang rupanya para direktur Primagama Pusat yang bicara soal kepribadian, kepemimpinan, komunikasi terapan. Sisanya, kami diajar oleh tiga orang yang menetap di kampusPLMPM. Yaitu Pak Ridlo Zarkasyi, Pak Budi Abdullah Mahmud, dan Pak Hadi. Dua nama pertama adalah Direktur PLMPM. Orang ketiga adalah seorang insinyur pertanian lulusan UGM yang jadi konsultan pada beberapa proyek PLMPM. Orangnya ngomongnya sopan banget (semua anak PeLeMPeM dipanggil Mas!) dan relijius serta ibadahnya persisten banget. INTEGRATED banget manusia yang satu ini. Sayangnya meski terbuka dan familiar banget gak bisa nebeng rokok! Kasian deh si Alex, Pakpahan, Ciko, Gembol, dll.
Pak Ridlo anak almarhum pendiri Gontor, insinyur lulusan UGM dan lulusan magister manajemen, HMI, lama hidup di dunia LSM, ngeJeans abis meski pake kemeja berdasi, jeansnya soak lagi, ngomongnya lugas, bisa nebeng rokok, orang muda banget! Yang menyebalkan cuman HaPe-nya yang ampun berdering terus selama kuliah. Dan selalu saja penting. Tapi kalo lagi sebel sendiri ama bunyi tuh HAPE dimatiin. Syukur dech! Emang dosen terbang (Jakarta - Solo) ‘n supersibuk.
Pak Budi anak (alm) Kyai Mahmud lulusan IAIN di Malang, mantan Ketua HMI Badko Jawa Timur, ndalem banget ilmunya, bisa nebeng rokok juga
meski gak ngejeans. Kayaknya bisa baca pikiran orang tuh. Puyeng deh kalo udah Johari Window, sifatsifat jelek kita dipaparin satusatu.
Yang paling menyenangkan adalah saatsaat para fasilitator harus duduk manis dan kami per orangan atau kelompok berbicara di depan kelas. Presenting works, project and slides. Everyone has his own style.
Kuliah dari pagi sampai larut malam selama 3,5 bulan. Bersama kopi atau teh yang selalu tersedia. Yang ngerokok ya silahkan. Yang nggak ngerokok ya makan permen atau penganan. Yang rokoknya habis kalo nggak nebeng ke sesama teman ya nebeng ke fasilitator. Yang kopinya atau air minumnya habis silahkan jalan ke sudut ruangan kelas dan nambah lagi. Bebas banget.
Untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan alam pikiran LSM, pikiranpikiran anti-kapitalis tapi tidak sepenuhnya Marxist. Rupanya tidak sepenuhnya LSM memegang teguh idealisme ketika berhadapan dengan uang. LSM plat hitam, plat merah, plat hijau dan plat yang gak jelas. Aku berkenalan dengan polapola perubahan sosial, Participatory Rural Appraisal untuk pemberdayaan masyarakat desa dengan pola bottom up. Cerita tentang gimana hancurnya pengetahuan pertanian masyarakat dunia ketiga ketika Barat memperkenalkan Green Revolution di tahun 70-an yang pada dasarnya hanya upaya memasarkan dagangan pupuk dan pestisida barat dari bahan kimia sintetis. Dan betapa susahnya saat ini merubah pola pikir petani untuk meyakini bahwa tahi kerbau, sapi, kambing, ayam dan jerami yang dikomposkan lebih berharga ketimbang pupuk kimia serta pola pengendalian hama yang enviromental-care lebih baik ketimbang menyemprotkan bergalongalon racun.
Dan untuk pertama kali aku berkenalan dengan alam pikiran entreprenuership. Juga komunikasi, psikologi terapan, kepemimpinan. Apa yang kupelajari di PLMPM-lah yang kemudian mendorongku untuk melanjutkan kuliah di fakultas ekonomi.
Begitulah hidupku di PLMPM. Meski terkadang berat, tapi amat berkesan. O, what a miss!
apa kabare son,kita satu angkatan. skr posisi dmn neh…call me 0818103212