Orangorang Tunis (2)
October 3, 2006 by rebornsonny
Pada bagian ini, aku ingin membahas tentang beberapa individu orangorang Tunis yang cukup ku kenal yang secara adhoc ingin kumaksudkan sebagai anakanak ITQAN dan FP2WS. Pembaca bisa melihat sejauhmana keterbukaan orangorang Tunis terhadap berbagai pemikiran dan wacana yang berkembang dan sejauhmana tarik menarik antara aktivisme dan intelektualisme dalam perjalanan hidup mereka. Bila pola distribusi keislamanan boleh dianggap berada pada sebuah garis horizontal dengan sisi kiri dan kanan, bisa dikatakan bahwa orangorang Tunis menempati hampir semua titik pada garis tersebut dengan kecendrungan moderat yang kuat.
—————————————-
SUHARTONO TB, Asisten Pustaka PMD, FP2WS, 699 Blue
Suhartono TB membaca hampir semua bukubuku tokoh pemikiran moderat, terutama Cak Nur, Ali Syariati, Murtadha Muthahari, Jalaluddin Rakhmat. Tapi kecenderungan utamanya adalah pada Kang Jalal. Tono menyerap hampir semua lini pemikiran Kang Jalal, mulai dari Komunikasi, Psikologi, Psikologi Komunikasi hingga kecenderungan sufistik Kang Jalal. Tono sendiri diperkenalkan pada ketokohan Kang Jalal oleh salah seorang ustad pembimbing Klub Bahasa Inggris "Spirit" (yang juga mentor FP2WS selain Yusuf BZ) yang punya kecendrungan sufistik dan sedikit kecendrungan Mazhab Ahlul Bait. Tono sendiri tampaknya kurang tertarik pada wacana Mazhab Ahlul Bait. Yang menarik adalah meski kemampuan menulis Tono boleh dibilang biasa saja. tapi kekuatannnya ada pada artikulasi oralnya. Ia tampak berusaha mengaplikasikan semua teknik komunikasi yang diajarkan Kang Jalal dalam kehidupan sehari-hari. Boleh dibilang Tono mulai mengembangkan pola komunikasi massa-nya sendiri. Ia mungkin lebih tepat dianggap solidarity maker ketimbang pure thinker.
Karenanya tak heran, meski di Gontor, Suhartono hanya menempuh jalur second line leadership (penggerak bahasa), tapi ketika melanjutkan pendidikan di Mesir, Tono menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir yang beranggotakan hampir 3000-an orang. Di Mesir, kecendrungan sufistik atau yang lebih tepat disebut zuhud / asketik Tono lebih berkembang ketimbang moderatnya yang mungkin mengarahkan paham keagamaannya ke arah kanan, agak puritan tapi tidak murni Kanan Islam. Ia menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai anakanak Tarbiyah atau yang lebih umum dikenal di kampuskampus Indonesia sebagai aktivis LDK. Pun juga aktivitasnya di Partai Keadilan Sejahtera. Mungkin beberapa gagasan Kang Jalal tidak lagi menarik perhatiannya.
Menarik juga bahwa ternyata Tono yang TeBe itu
lebih memilih masuk ke Jurusan Sejarah dan Peradaban ketimbang mendalami ilmuilmu agama. Mungkin ia terpengaruh denganku yang mengagumi Kuntowijoyo, pakar sejarah UGM dengan gagasan ilmuilmu sosial profetik, puisipuisi sufistik dan cerpen sosio-relijiusnya. Sisi baiknya adalah pikiranpikiran Tono tidak disibukkan dengan detaildetail masalah keagamaan partikular seperti hukumhukum halal-haram atau teologis, tapi lebih pada tematema besar seperti perubahan sosial, kemiskinan, pemberdayaan umat dst.
Sisi baik dari persinggungannya yang intens dengan pemikiranpemikiran moderat bahkan Kiri Islam semasa di Gontor membuatnya tidak terlalu alergi berhadapan dengan orangorang moderat dan Kiri. Tono bisa menjadi semacam jembatan antara Kanan dan Kiri. Aku kira ini hal terbaik bagi Tono dan orangorang Tarbiyah yang dipimpinnya. Ia tipe ideal calon pemimpin partai PKS di masa depan seperti halnya Hidayat Nur Wahid bahkan melampaui beliau. Beyond Hidayat Nur Wahid ! Selain itu Tono menguasai beberapa bidang olahraga dan pernah menjadi sutradara beberapa pementasan drama, dan yang spektakuler tentunya Kabaret Kolosal di Drama Arena 598.
——————————————-
NURDIYANTO, Asisten Pustaka PMD, FP2WS, 699 Blue
Nurdiyanto adalah sahabat karib Suhartono sejak Pustaka dan di Spirit English Course. Anak kyai desa di dekat Gontor ini mungkin tidak terlalu menonjol artikulasi pemikirannya. Tapi tentu saja ia seorang cerdas yang menyerap kecenderungan orangorang di sekitarnya. Gaya bicaranya lebih mirip pemimpin ketimbang pemikir. Karenanya terkadang aku senang juga melontarkan joke-joke untuk memecah keterlaluseriusannya dalam berbicara. Juga enak juga memperolok anak yang satu ini.
Di Gontor, sesuai dengan statusnya sebagai orang Ponorogo dan anak kyai desa, Nurdiyanto sejak awal diorbitkan oleh Gontor untuk menjadi kader. Ia menempuh jalur first line leadership (Bagian Keamanan Rayon, Bagian Pengajaran OPPM). Setelah menamatkan S1 nya di ISID, Nur ditunjuk untuk mengurus sebuah pesantren di Riau. Pergaulannya yang intens dengan dunia pemikiran di Gontor, intensitasnya di Pustaka dan pergaulannya dengan orangorang yang kritis terhadap pola pendidikan pesantren mungkin akan membuatnya lebih care terhadap penumbuhkembangan intelektualisme dan relijiusitas ketika kelak memimpin. Yang kurang pada diri Nurdiyanto mungkin kekurangberaniannya mengubah kebijakankebijakan secara cepat.
———————————————————————
EKA SAEFULLAH, Asisten Bagian Fotografi, FP2WS, 699 Blue
Tak banyak yang aku ketahui tentang Eka karena mungkin tidak begitu intens pergaulan ku dengannya. Tapi yang paling menyentuh hatiku adalah ia orang yang paling konsisten menemaniku mengurus administrasi FP2WS semasa kelas lima sementara Tono dan Nurdiyanto sibuk dengan halhal di luar FP2WS. Meski tidak menonjol dan tidak terlalu artikulatif, persistensinya amat menyentuh hati. Ia orang paling rapi di Tunis. Di OPPM, ia menjadi Bagian Fotografi. Itu yang membuatnya cukup jauh dari arena pemikiran.
Tapi yang menarik, selepas Gontor, ku dengar ia menjadi magang di salah satu majalah berita ibukota. Dunia jurnalistik memang tidak terlalu jauh dari dunia pemikiran.
——————————————
ANIZAR, ITQAN, 699_Blue
Anizar, serupa dengan kecendrungan kakaknya Anang Rikza kuliah di Mesir dan menjadi aktivis Muhammadiyah. Aktivisme dalam dirinya lebih menonjol ketimbang intelektualisme. Artikulasi tidak begitu baik. Gaya bicaranya mirip Pemimpin Kantor Berita Antara, Parni Hadi. Tapi aktivisme yang sedari Gontor ditumbuhkembangkannya membuat Anizar melejit cepat di Mesir. Kuliahnya terbengkalai tapi sisi baiknya, ia dekat dengan tokohtokoh besar. Tak kurang dari Rektor Universitas Al-Azhar Mesir pernah dipandunya saat berkunjung ke Indonesia. Saat ini Anizar menjadi asisten pribadi salah satu duta besar RI di TimurTengah
——————————————-
MUJAHIDIN, Asisten Pustaka PMD, FP2WS, 699 La Viola
Mujahidin, satu angkatan di bawah kami, menulis dengan amat baik dan berpuisi. Di Gontor menempuh first line leadership bahkan menjadi Ketua Yudisium Angkatan La Viola–posisi prestisius. Namun ia lebih cenderung menjadi pure thinker.
Di Mesir, Mujahidin lebih intens bergaul dengan pemikiran moderat bahkan Kiri Islam. Intensitas aktivitasnya di Klub Studi Pemikiran "Al-Mizan," bukannya di jalur mainstream PPMI. Setamat dari Mesir, ia pulang ke Indonesia dan aktif di salah satu penerbitan yang masih terkait dengan Jaringan Islam Liberal. Terlepas dari pilihannya menjadi bagian dari JIL, ia adalah pribadi pemikir yang memilih dengan sadar.
——————————————-
Demikian sekelumit tentang orangorang Tunis.