ayat spektakuler
November 10, 2006 by rebornsonny
Barangsiapa yang Allah ingin memberinya hidayah, maka Ia lapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Barangsiapa yang Allah ingin menyesatkannya, maka Ia buat hatinya sempit - sesak seakan-akan ia sedang naik ke langit.
|| QS. al-An’am : 125 || ( terjemahan secara sendiri, moga gak ngaco)
Tadi pagi selepas Dhuha-an di Mushalla FE Unand yang masih baru, gw ambil al-Qur’an dari atas mimbar. Al-Qur’an yang format hurufnya nggak begitu bagus seperti yang pernah gw pake waktu ngaji di TPA semasa kecil dulu. Soal al-Qur’an dan sajadah gw emang sedikit choosy. Estetik gitu loh. Tapi sutrahlah cuman itu yang ada. Niatnya cuman baca 1 - 2 halaman, gak bikin mata gw puyeng kok.
Secara acak gw buka. Lalu ketemu ayat yang diatas. Dan secara gw begitu tersentuh. Jarang-jarang gw baca al-Qur’an dan lebih jarang lagi hati gw tersentuh. Mungkin karena suasana nyaman di Mushalla tanpa dinding ini. Shalat dan baca Qur’an ditemani kicauan burung dan sejuknya udara kampus di atas bukit ini. Dan ditemani sepi. Kalo secara orkestra, ini berarti komposisinya serba pas.
Bukan soal hidayahnya gw tersentuh, bukan soal terjemahan harfiahnya. Tapi tentang metamorfosa yang diambil Allah untuk menggambarkan betapa sempitnya hati mereka yang disesatkan Allah. Pertama, ayat ini bisa membuktikan bahwa tuduhan orang-orang konyol sedunia bahwa al-Qur’an itu bikinan Muhammad salah besar. Muhammad itu ummy, buta huruf, gak pernah berguru kepada siapa pun, apalagi makan bangku sekolahan. Mana pernah Muhammad tahu bahwa semakin ke langit udara semakin tipis.
Kondisi geografis semenanjung Arab pun tak ada gunung yang begitu tinggi yang bisa menggambarkan ketipisan udara itu. Lagian petualangan Muhammad semasa kecil cuman ke Negeri Syam (sekarang Syiria), gak ke Himalaya atau ke Alpen. Pendeknya, pengetahuan alam Muhammad soal kerapatan udara sama sekali nol. Siapa lagi yang ngasih tahu Muhammad soal ini kecuali Allah ? (Ini pertanyaan retorik, jangan dijawab dong !)
Kedua, al-Qur’an itu terbukti scientific atau setidaknya gak anti-sains. Sebelum teori tekanan udara ditemukan, al-Qur’an udah bicara soal atmosfer dengan bahasa sederhana. Allah menjadikan semesta ini sebagai ayat-ayat kauniyah (creatures) sebagai pelengkap dari al-Qur’an sebagai ayat-ayat qauliyah (teks) yang dua-duanya sama-sama penting dijadikan bahan pikiran, tafakkur. al-Qur’an amat banyak bicara soal semesta. Dan yang paling mudah diingat adalah soal langit, bumi, laut, bulan dan bintang-bintang. Itulah kenapa pengetahuan astronomi, geografi dan navigasi di masa kegemilangan Islam begitu maju. Terpicu oleh al-Qur’an.
Ketiga, cuman mo ngasih tafsiran versi gw, soal hidayah ini emang agak ribet. Ayat ini seolah-olah menyiratkan bahwa hidayah itu adalah sesuatu yang datang dengan sendirinya. Manusia berada dalam posisi pasif tanpa kehendak bebas (free-will). Jabariyyah. Terima nasib aja. Kalo gw ngelempar kaca mobil orang sampe pecah kan itu bisa terjadi karena Tuhan berkehendak. Gw gak bisa disalahkan dong? Salahin Tuhan gw dong ! Lalu kalo gw ditampar orang yang salah siapa? (Lagi-lagi retorik, apes deh lo)
Asas kausalitas gak berfungsi dalam konteks ini. Nah, solusinya nih, kalo baca al-Qur’an nggak cukup cuman satu dua ayat. Lo harus liat al-Qur’an secara holistik, integral. Ada lagi, kalo gak salah satu Hadits Qudsy bilang bahwa kalo kita mau berusaha dekat dengan Allah, Allah bisa lebih dekat kepada kita. Bahkan Allah lebih dekat ke kita ketimbang urat leher kita sendiri. Itu yang dijadiin lirik lagu Bimbo: "Aku jauh Engkau Jauh, Aku dekat Engkau dekat." ( Hadits Qudsy itu bahasanya intim banget ! Kalo lu mo baca, hati lu pasti tersentuh)
Nah dalam konteks ini manusia diberi Tuhan kehendak bebas. Free-will. Qadariyyah. Manusia diberi peluang untuk menggapai hidayah atau membenamkan dirinya dalam lumpur dosa. Tuhan juga bilang: "Bukankan kami beri mereka dua mata, satu lidah dan dua bibir ? Dan kami tunjukkan mereka dua jalan ?" (Duh, gw lupa itu surat apa ?) Tuh kan, Tuhan bilang, nih gw kasih lo modal untuk hidup di dunia yang cuman sebentar ini. Mo untung apa mo rugi, seterah lo. Begitu kira-kira terjemahan super bebasnya.
Lalu mana yang bener sich ? Ini pertanyaan yang salah. Lu harus liat Islam secara holistik, integral (aduh, kosakata gw gak nambah2 nih, ituitu aja). Bagi gw Islam itu agama tengah-tengah. Bahasa Jawa-nya: moderat. Bahasa al-Qur’annya: wasatha. Lu sama sekali gak pasif di dunia ini. Tidak juga bebas sebebas-bebasnya. Lu masih tetep dalam jangkauan radar Tuhan.
Coba lu pikir, ada garong yang udah rampok sana sini, udah bunuh banyak orang, tiba-tiba disentuh Tuhan: jadi muslim, kyai lagi. Ada artis yang super seksi dandanannya, eh besoknya udah pakai baju muslimah dan alim. Who knows besok giliran siapa ?
Pertanyaannya kemudian, apa skenario hidayah cuman begitu-begitu doang? Lalu gimana dong kami-kami yang udah muslim sedari lahir karena ibu-bapak kami juga muslim kok gak jadi alim seperti mereka-mereka ? Nah itu pertanyaan sulit dijawab kalo lu jawabnya pake kepala. Lu harus jawab itu pake hati: berprasangka baiklah pada Allah. Udah syukur kita-kita ditakdirkan lahir sebagai muslim. Meski di abad dimana Islam dipojokkan. Sejarah itu bagai roda yang berputar maju kok–berulang tapi ke arah depan. Suatu saat ummat ini bisa maju kok. Tinggal usaha aja dikencengin.
Menjadi muslim sejak lahir itu udah modal gede. Tinggal mo nambah deket dengan Allah itu free-will. Kalo udah usaha gak juga jadi orang alim, apa hidayah itu cuman soal menjadi alim aja ? Menurut gw sih nggak. Bagi gw, kalo hati tetep tertambat berlabuh di Islam, selalu menjadikan keislaman sebagai kacamata pandang itu udah hidayah. Kalo besok gw jadi pemabok itu artinya gw berusaha menjauh dari hidayah. That simple kan ? []