I Made Wiryana - a role model
November 20, 2006 by rebornsonny
Tidak terasa, Madhava sudah masuk ke TK, dan kami sudah mengantarkan dan merelakan Dhava ke tangan
pendidik lain. *I Made Wiryana* http://wiryana.pandu.org/
Jalan-jalan ke blog orang-orang IT yang tentunya provokator penggunaan Linux emang asik. Saya bisa melihat sisi manusiawi dari orang-orang yang saya kagumi ini. Secara saya yang tidak tertarik dengan kehidupan selebritis, mengidolakan orang-orang yang ternyata juga bloon ini menarik juga. Pak Budi ini misalnya, saya baru tahu bahwa memang orang-orang yang paling memahami teknologi teranyar, avant garde, ternyata bukan early adopter gadget. *Dan amat nyata bahwa seorang early adopter macam Roy Suryo hanya tong kosong nyaring bunyinya dan berujung jadi bahan olok-olok para blogger yang rata-rata melek IT. Duuuh Mas Roy… kalo gak kompeten gak usah ngomong dech.. orang awam jadi korban tuh*
Pak Budi aka Mr. Gerakan Bawah Tanah ini ternyata cuman punya HP Nokia 6230 yang dipakainya kesana kemari buat mengabadikan banyak momen. Sampai manjat-manjat lemari buat memfoto kuliah "keamanan jaringan" di Lab ITB dengan hape tersayang. Dosen wuaaaannneeh
Saya jadi ingat Kang Onno waktu memperkenalkan LinuxMandrake 8.2 dan majalah INFOLinux di Pangeran Beach Hotel Padang di tahun 2001. "Orang biasa" ini waktu itu cuman punya komputer Pentium II di rumahnya. Dia cuman ngerti Windows 98. Windows XP ? Jangan ditanya dech.. mungkin lebih pinter saya ketimbang dia soal mainan si Gate(s) ini
Apa memang orang-orang yang kadung jatuh cinta sama si Tux menunjukkan perilaku aneh ? Para psikolog perlu urun nge-riset tuh apa ada korelasi positifnya ^_^
Waks.. kok jadi nggosipin MR. GBT + Kang Onno - Raden Mas Roy Suryo sih.. Judulnya kan IMW ? Oke dech..
Saya amat tersentuh membaca lamunan Wiryana tentang hari pertama anaknya, Madhava, masuk TK. Madhava… hmmm..nama yang bagus. Apa beraksen Bali kah? atau lebih dekat ke kata Mandriva–salah satu distro Linux asal Perancis ? Yang pasti nama anaknya kedengeran puitis.
Saya ingin membahas apresiasi saya pada orang muda IT keren ini. Pertama, Wiryana dan sisi manusiawinya sebagai seorang ayah. Kedua, Wiryana, anak, dan tradisi. Ketiga, Wiryana, Madhava dan Linux. Apresiasi saya mungkin lahir dari berbagai sisi pribadi saya : laki-laki, linuxer wannabe, percaya tradisi sekaligus modernitas plus estetika keduanya, dan antusiasme saya pada dunia anak-anak yang saya yakini akan melengkapi lanskap pandangan dunia saya (world view) terhadap kebudayaan, peradaban dan kemanusiaan.
Wiryana, anak dan tradisi
Baru kali ini saya mengunjungi blog yang bercerita tentang seorang anak dari sudut pandang seorang ayah. Paling banyak ya cerita para bunda tentang anaknya.
Madhava sejak kecil dibesarkan dalam tradisi etnis nusantara–musik etnik, tarian etnik dan topeng Bali. Diatas segala perbedaan etnik, saya percaya bahwa mendidik anak untuk mengenal tradisi amat baik bagi kejiwaannya. Ketercerabutan dari akar tradisi akan meninggalkan celah besar dalam psikologi manusia. Dan ini patologi sosial paling akut di manusia Barat atau ter-Barat-kan. Makanya jangan heran, antusiasme Barat terhadap tradisi Timur salah satunya didorong keinginan mencintai tradisi sekaligus mencari pencerahan dari kayanya kearifan Timur ( wisdom of the East ). Tapi saya juga tidak menutup mata bahwa antusiasme Barat terhadap Timur juga adalah fase lanjutan dari eksploitasi kapitalistik dan hegemoni ego Barat, yang orang ramai menyebutnya sebagai "westernisasi."
Secara antropologis, seultra modern apapun manusia tidak akan bisa bisa lepas dari tanda dan penanda. Tradisi akan memberikan manusia identitas komunal, ikut membentuk ide tentang konsep diri, citra diri dan ego. Bukan bermaksud menganjurkan primordialisme + tribalisme + chauvinisme + narsisme. (Apa jadinya tuh kalo isme-isme bodoh tadi diadon jadi satu..
Saya hanya ingin mengatakan tradisi itu baik asal dibarengi dengan didikan terhadap nilai-nilai modern yang juga dianjurkan agama-agama : inklusivisme sosial (bukan teologis), keterbukaan pada perbedaan dan empati. Sederhananya, kombinasi antara tradisi dan modernitas dalam jiwa seorang manusia akan saling melengkapi. Tradisi akan memberikan identitas tempat berpijak, sementara modernitas akan memberikan kemampuan baginya untuk menjadi warga dunia (global citizen).
Saya sendiri merasa tidak dibesarkan dengan baik dalam tradisi Minang. Lagian, di usia 12 - 19 tahun saya bersekolah di Jawa, berkenalan dengan teman-teman dari berbagai etnis dan menyerap pula tradisi Jawa plus kecenderungan kontemplatifnya. Baru kemudian saya berkuliah di kampung halaman, Padang. Akan tetapi persinggungan saya dengan tradisi Minang kali ini lebih secara intelektual ketimbang natural. Jadi masih terasa ada celah dalam pribadi saya. Mendekati tradisi secara intelektual sedikit banyak mengurangi keintiman dan subjektivitas terhadap tradisi itu sendiri. Dalam beberapa konteks kita butuh membuang jauh-jauh objektivitas akademis. Biar intim gitu…
Wiryana, Madhava dan Linux minus TV
Kalau
ada benda berteknologi yang disukai Madhava, pastinya bukan TV, melainkan
komputer / laptop bersistem operasi Linux. Keren banget, kecil aja udah berteman Linux, gimana gedenya tuh.
Linux sendiri lahir dari tangan seorang pemuda pemalu yang senang berbagi, Linus Torvalds, di usia 21 tahun, di tahun 1991 saat Windows 3.1.1 meraja dan mulai menimbulkan manfaat sekaligus masalah. Begitulah.. kesenangan berbagilah yang membuat Linux besar dan amat saya yakini bisa menciptakan dunia yang lebih baik dan adil bagi semua orang. Linux memicu tumbuhnya komunitas opensource, komunitas yang senang berbagi. Java, bahasa program yang dapat dengan mudah ditemukan di ponsel yang kita pakai juga ikut urun berbagi dalam komunitas ini. Semoga kesenangan berbagi selalu menjadi bagian penting dalam hidup Dhava.
TV menurut saya tidak ramah bagi
tumbuh kembang seorang anak. Banyak hal yang bisa dilakukan, diajarkan kepada anak-anak
dan lebih menghibur sekaligus mendidik ketimbang duduk dengan pasif
mengkonsumsi siaran tv yang belum tentu selaras dengan kejiwaan anak-anak.
Anak-anak
belajar dari meniru, bahasa sosiologinya: mengimitasi. Dan TV, sebagai bagian
dari dunia kapitalistik yang berbuntut rating dan uang, masih didominasi oleh
tayangan-tayangan tidak sehat meski berlabel “untuk anak-anak”. Sampai sekarang
saya tak habis pikir dengan dialog-dialog bodoh di banyak sinetron
Indonesia. Seolah-olah orang Indonesia
tidak bisa berbicara dengan sopan atau baik-baik. Semuanya berlomba-lomba untuk
judes, jutek.
Persinggungan
tokoh protagonis – antagonis ditampilkan begitu telanjang. Bagi saya citra
hitam – putih yang begitu menor itu amat menggelikan. Keduanya bukan manusia.
Lebih mirip malaikat dan setan ! Lagian, malaikat dan setan aja gak bertengkar.
Kenapa tidak
belajar dari drama Korea atau Jepang yang juga dipirsa oleh penonton Indonesia.
Harusnya kan ada daerah abu-abu diantara keduanya, dimana mereka bisa berdialog
dengan cerdas. Dan pertentangan akan lebih tampil halus dengan gesture, bahasa
tubuh, tata cahaya, komposisi musik latar yang datar, kalaupun bertakik-takik
tidak begitu tajam naik turunnya. Kalaupun yang diinginkan adalah dramatisasi,
hei..ini bahkan lebih bernilai drama.
Juga kartun.
Saya iri dengan generasi sekarang. Mereka tumbuh dengan kartun Nickelodeon.
Saya tumbuh dengan kartun ala Walt Disney, pertentangan-pertentangan keras
antara Tom dan Jerry, Donald Bebek dengan tupai atau binatang lain dan banyak
kartun sejenis yang menurut saya tidak sehat. Kalaupun ada heroisme, itu hanya
heroisme Batman, Superman yang sama sekali tidak manusiawi. Dan masih tampil
hitam – putih.
Kartun Nick
lebih manusiawi dan bermakna. Kalau segala sesuatu harus punya fungsi,
maka kartun Nick memang berfungsi. Yang saya tidak habis pikir hanya “Sponge
Bob.” Sepertinya bukan asli buatan Nick. Dialog-dialog bodoh, tingkah-tingkah
bodoh, adegan-adegan amat bodoh. Lucu memang. Tapi cobalah pandang dari mata
seorang bocah kecil. Apakah ia akan lebih baik dengan menontonnya ? Kan ada banyak pilihan tontonan alternatif.
Pun, lebih baik
bagi seorang anak menonton dari VCD Player / komputer ketimbang TV. Dengan
demikian kita bisa mengontrol apa yang sehat dan tidak sehat.
Wiryana dan komunitas newbie IT
Menurut saya,
apa yang ditulis Wiryana tentang kehidupan pribadinya akan sama pengaruhnya
dengan apa yang ditulisnya tentang Linux, kebiasaan menulis program, hacking
hardware dan seterusnya. Para newbie akan sadar bahwa duduk berjam-jam di depan
komputer harus diimbangi dengan komunikasi sosial yang intensif. Jika tidak,
apa yang diprediksi Yasraf tentang akibat buruk teknologi informasi terhadap
teralienasinya manusia akan benar-benar nyata. Dibutuhkan harmoni antara kontak
dengan benda-benda—macam buku, komputer, gadget dst—dan kontak langsung
dengan manusia. []
mau tanya gmn seeh bisa tau ttg keamanan/security web?
pengen belajar byk ttg itu, tp blm ada yg bantu.