Ketulusan
November 3, 2006 by rebornsonny
Berikut ini tulisan Miranda yang kukutip dari blognya, Pojok Kanayakan. Ketulusan-ikhlas-empati adalah salah satu theme penting dalam hidupku. Seberapa tuluskah aku berteman dengan orangorang ? Seberapa tuluskah sayangku pada orangorang yang kucintai ? Seberapa tuluskah tulisantulisanku menghadirkan kejujuran ? Baca aja dech…
===================================
Ketulusan sering diibaratkan sebagai kertas putih.
Kirana Nina pernah mengungkapkan mengalirnya ketulusan sebagai sesuatu
yang hadir begitu saja, tanpa pretensi atau kepentingan apa pun untuk
melakukan sesuatu. Ia seperti mata air yang mengalir dari kedalaman
hati dengan sendirinya. Ia bening adanya.Bening berarti tidak bewarna. Dari sudut pandang
tradisi spiritual, ia bebas dari merah, jingga, kuning, dan bahkan
putih; warna-warna yang menyimbolkan nafsu amarah, nafsu kepemilikan,
nafsu kepada lawan jenis, sampai nafsu yang sebetulnya paling ilahiah,
yakni nafsu untuk mengumpulkan sebanyak mungkin nilai kebenaran. Bening
dapat diwarnai oleh apa saja, tetapi ia juga menghadirkan semua warna
seperti adanya.Seperti halnya air bening yang selalu menjadi tujuan
dahaga yang telak, ketulusan juga menjadi dambaan jiwa yang kering.
Ketulusan, siapa sangka, adalah harta yang esensial. Mungkin seseorang
akan bahagia dengan memiliki uang, pangkat, atau jabatan. Tetapi,
bahagia karena uang, pangkat, atau kedudukan itu baru kemungkinan.
Bahagia karena ketulusan adalah kepastian.Hadirnya ketulusan dalam hati, mengisyaratkan
kondisi hati yang sederhana. Sederhana dari pretensi, kepentingan, atau
hasil apa pun selain nikmatnya merasakan ketulusan itu saja, yang
mengalir begitu saja. Nikmat itu membuat orang yang sedang tulus
menjadi trans, hilang ingatan, lupa bahwa di ujung amal perbuatannya
yang tulus, ada hasil lain yang layak ditagih olehnya selain sejuknya
ketulusan itu sendiri.Uniknya, di sinilah agaknya keadilan Tuhan hadir
dengan feminin; tidak dengan berwibawa dan bermuatan ancaman atau
hukuman, tetapi dengan bersahaja, bertaburkan keindahan dan keharuan.
Kehadiran keadilan Tuhan seperti ini membuat sesuatu yang sederhana
menjadi tidak sederhana: menjadi bermakna, dan abadi dalam ingatan.Seorang teman saya, baru beberapa hari lalu, berdiri
menunggu bus di halte, seperti biasa. Kepalanya dipenuhi oleh agenda
program pekerjaan dan pemikiran yang harus diselesaikannya, seperti
biasa. Yang tidak biasa adalah ketika seorang perempuan tua, yang
mungkin lupa banyaknya uang yang telah disimpan di dompetnya, kehabisan
uang dan mengulurkan tangan kepadanya: meminta. Teman saya itu
sebetulnya orang yang paling berhati-hati untuk menyambut
“peminta-minta”. Tetapi, ketulusan tiba-tiba memabukkannya sehingga ia
sodorkan sepuluh ribu rupiah dari dompetnya, begitu saja. Lalu, karena
sedang trans, tentu saja ia lupa. Esoknya, ia baru sadar sesuatu yang
abadi baru saja menyapanya dengan begitu nyata ketika di trotoar,
selembar uang sepuluh ribu tak bertuan tersangkut di sepatunya, menjadi
miliknya.Seorang teman saya yang lain, juga baru beberapa
hari yang lalu, mengikhlaskan shalatnya di sebuah tempat yang, bagi
budaya ritual yang kita kenal, menyedihkan: di dekat halte bus, di atas
rerumputan hijau yang agak lengang, dekat dok pelabuhan. Tetapi, ia
tampaknya tidak melihat bahwa orang-orang di sekitarnya bekerja,
bermain, hingga berpesta. Uniknya, tidak dilihatnya juga keseronokan
natural yang lain, ketika puluhan camar tiba-tiba hinggap diam-diam di
tanah, mengitarinya, bersamaan dengan dahinya yang bertemu dengan bumi.
Mungkin, camar-camar itu, ya, begitu itu tabiatnya. Tetapi, kebetulan
itu menjadi begitu bernilai bagi orang yang melihatnya. Dan teman saya
itu baru sadar, ketika disadarkan.Sungguh mengherankan bahwa ketulusan itu sebetulnya
sudah mengalir deras, tidak ada habisnya, dari balik tanah, bebatuan,
dan hati Anda. Betulkah?
yab betul, saya sangat setuju dengan anda!