Membaca Gie dan Menonton GiE
November 24, 2006 by rebornsonny

Sudah lama saya
berhenti menonton film. Kalau pun menonton, paling karena film itu “menemukan”
saya : mendatangi saya lewat teman atau tiba-tiba saya temukan dalam komputer
teman. Pertama, membaca cerpen / novel rasanya membuat saya lebih kreatif –
imajinatif ketimbang menonton. Kedua, film Hollywood gagal menjadi jembatan budaya, bahkan menimbulkan stereotype yang salah tentang Barat. Ketiga, saya takut kecanduan. Dan
bagi saya tidak mencandu film itu prestasi luar biasa. Rasanya seperti tidak
pernah berpikir untuk merokok. Merokok ? Saya rasa itu tindakan paling bodoh.
Begini saja saya sudah merasa bodoh. Apalagi merokok. Sonny dan merokok adalah
kombinasi kebodohan yang tidak cantik
Saya memang
berusaha menghindari hal-hal berbau addicted.
Takutnya terjangkit Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Ng…coba saya list
kebiasaan addicted : merokok, main
game komputer, main PlayStation, nonton tipi, nonton pilem, dan…mmm… pergi ke
rumah Siska *nnah loh..?*
Merokok gak
pernah, meski teman2 semasa sekolah hampir 90% merokok, 50% bisa menghabiskan
sebungkus rokok dalam 3 hari. Kalau dunia sudah gila semua, apa saya musti
ikutan gila pun ? Mereka pikir saya gila. Karena saya hanya minoritas waras.
Semantika “gila – waras” pun berubah
Game yang saya mainkan cuman yang kecil-kecil, yang bisa bikin rileks. Filosofi game bagi saya harus yang bisa bikin rileks bukan yang bisa bikin panik. Sudah 4 bulan saya gak main game komputer. Horreeee.
Nonton tv ?
Bosan – mual – muntah. Nonton film ? Dulu sih waktu 2 tahun pertama di Padang rutin tiap minggu. Trus saya mulai selektif banget milih film yang ditonton.
Meski udah bayar mahal-mahal ongkos rentalnya, tapi kalo film-nya bikin mules,
pantang deh dipantengin ampe abis. Ya..gitu dech.. banyak kuciwanya.
Main PS ? Is, It, Armen, Bobby dkk sampe ngakak waktu tau saya blank banget soal PS. Apa
gape komputer musti gape PS ? ngGak kan ? Begitulah.. meski sepupu sebelah rumah punya PS dan seorang teman punya
rental PS besar dengan tv 29” saya tidak
tertarik untuk mencobanya
Membaca Gie, ya! Menonton GiE, …?
Meski sudah lama
film GiE dirilis, baru kemarin lusa saya tonton. Saya takut film nya gak mampu
menghadirkan sosok Gie. Citra Gie yang sudah bagus dalam pikiran saya takutnya
rusak karena menonton filmnya. Meski yang ngerilis Miles Productions, produser
film kelas satu. Saya gak yakin mereka ngerti dengan aktivisme Gie. Lagian,
saya baca berita bahwa diskusi dalam tur promo film GiE tidak sampai menyentuh
aspek idealisme Gie. Banyak teman-teman aktivis yang kuciwa dengan promonya.
GiE dalam konteks ini akhirnya hanyalah salah satu produk yang dianggap layak
jual. Pun mungkin karena acaranya keburu “dibajak” oleh mahasiswa-mahasiswa
yang gandrung citra pop Nicholas. *Duh,..saya begitu mencintai Gie. Tak tega
menonton hingga serendipity menggerakkan saya menonton GiE.*
![]() |
|
Gie atau Nicholas ?
Jadi, pertanyaan
paling pas sebelum menonton adalah faktor apa yang mendorong anda menonton ?
Gie factor or Nicholas factor ? Saya tidak bilang Nicholas tidak mampu
memerankan sosok Gie. Saya cuman bilang kita kekurangan stok aktor sebaya
Gie yang layak diberi kehormatan memerankan Gie—setidaknya mempunyai citra book lover, little bit ascetic, dan suka
menulis. Dan saya rasa itu pilihan sulit bagi Riri Riza. Memfilmkan Gie saja
adalah pertaruhan besar mengingat temanya yang tidak biasa.
Riri mungkin
tidak mau berjudi lebih dalam dengan mencari wajah tak dikenal dari kalangan
aktivis mahasiswa beneran yang punya akting memikat. Bukannya sosok seperti itu
tidak ada, tapi pasar film kita masih prematur
untuk mampu menerima film dengan tema tidak biasa dan wajah baru.
Saya memaklumi
pilihan aktor yang jatuh ke Nicholas. Not too bad. Meski cowok ini terlalu
imut, artikulasinya tidak semirip Gie, gaya jalannya terlalu manis dan senyumnya tidak sekanak-kanak Gie.
Teknis film

Tata cahaya,
sudut (angel) kamera, tata musik, tata artistik, pilihan kostum, komposisi
lagu, dialog-dialog, semuanya bagus ! Hampir tanpa cela. Saya juga menyukai
nuansa musik etnik Jawa di film itu. *Apa itu lagunya Lekra ?* Saya juga suka irama keroncongnya. Waaaah jadoel banget !
Gie memang Cina, tapi ia merasa dirinya Indonesia tulen, bahkan menurut saya, ia jauh lebih Indonesia ketimbang teman-teman aktivis yang akhirnya menjadi hipokrit / garong / rampok
di parlemen dan birokrasi.
Saya amat
menyukai permainan cahaya di film ini. Kontras warna-warna, gelap – terang. Dan
temaram muram yang selalu datang silih berganti bergelut dengan warna-warna
pastel. Dukungan artistik ini membawa kita dengan amat baik ke masa Gie.
Mungkin ada sedikit cacat. Saya kira kualitas pakaian orang-orang di zaman
peralihan itu tidak sebaik yang di film. Jadi saya pikir kostumnya terlalu fesyen. Kontras dengan era 50 – 60an
yang bergolak, yang makan pun sulit, disana sini kemiskinan meruyak dan hidup
tampak muram. Saya lebih suka romantisme itu tampil lebih lusuh, kucel, kumal
ketimbang terlihat cantik tapi memabukkan. *Hei…mari pikirkan zaman itu segelisah
yang ada dalam pikiran Gie !*

Meski begitu
saya amat senang meng-capture
frame-frame indah dari film Gie. Saya suka lagu-lagu di film Gie. Kalo ada
waktu, akan saya pisahkan audio dari videonya, dipotong-potong hingga menjadi
beberapa file lagu berformat MP3 dan plz
dech jangan bilang saya pembajak. Cuman untuk kesenangan pribadi, tidak diperjualbelikan
Yang amat
memukau adalah adegan-adegan minus dialog. Mungkin kita menangkap beberapa
adegan kelewat pendek, nyelonong begitu saja, tapi memang disana letak sulitnya
memenjarakan Gie dalam durasi yang tak lebih dari 2 VCD. Tapi gesture, bahasa
tubuh, warna-warna, permainan cahaya sudah memberikan semua pengertian yang
kita butuhkan untuk memahami dunia Gie.
Soe atau Gie ?
Gie
memperkenalkan dirinya sebagai “Soe.” Ibunya di rumah malah memanggilnya “Gie.”
Tanya kenapa ? Coba saya jawab. Di luar lingkar komunalnya, Gie ingin dikenal
sebagai seorang bermarga Soe. Saya pikir di zaman itu butuh keberanian keluar
dari batas-batas budaya dengan tetap mempertahankan identitas komunalnya. Gie
malah tidak tertarik dengan ide pembauran yang digagas sebuah perhimpunan Tionghoa.
Gie tidak menolak ide itu, tapi cara yang ditempuhnya.
Gie dan Djien aka Arief Budiman
Kelewat aneh
juga hubungan keduanya. Bertengkar semasa remaja dan tidak akur lagi. Baru
setelah keduanya dewasa, bicara lagi dan sayangnya kelewat formal. Gie memang
tidak sempurna. Toh kesempurnaan bukan segalanya kan ?
Tapi coba saya
pikir lagi. Hanya sedikit aneh kok. Hubungan dua laki-laki kakak beradik
mungkin tidak bisa dibandingkan dengan kakak – adik perempuan. Saya dan kakak
laki-laki saya juga tidak cukup akrab meski tidak seaneh Gie - Djien . Pertama,
mungkin karena jarak umur yang cukup jauh dan kita tidak besar bersama, dia
pergi saya masih disini, saya mengikuti jejaknya, dia terbang jauh. Kedua,
karena dari sekolah yang sama, saya amat mengetahui kebodohan-kebodohannya dan
sebaliknya. Jadi, saya mulai kehilangan secuil rasa hormat. Ketiga, hei… kita
dua laki-laki di rumah yang sama. Yang tersisa kemudian tinggal bicara sebagai
dua orang dewasa. *But, truly I do love my brother.*
Gie : exceptional case ?
Orang besar jadi
besar karena dilahirkan di zaman yang salah. Mungkin ini cocok untuk
mendeskripsikan Gie. Coba pikir, Gie hampir tidak punya teman dengan
kecenderungan kontemplatif seperti dirinya. Kakaknya yang juga kontemplatif susah dijadikan teman. Sebaliknya teman-teman yang
ditemukannya di kesehariannya bahkan hingga kuliah tidak ada yang sebanding dengan Gie. Gie remaja radikal di dalam
dan di luar. Setelah kasus nilai pelajaran bahasanya, Gie mulai "melunak,"
menaruh radikalisme di hati / pikiran saja, menyamarkannya dengan tawa kanak-kanaknya dan melihat orang lain
secara lebih manusiawi. Gie berteman dengan Han, nama yang banyak disebut dalam
catatan hariannya. Tapi Han adalah teman sehati Gie, tidak sepikiran.







Gie berteman
dengan Herman Lantang. Tapi Herman bukan Gie. Ia lebih berbakat memimpin
ketimbang berpikir. Film GiE membantu saya memahami bahwa akhirnya Gie memang
tidak punya citra pemimpin formal. Ia pemikir, penulis, aktor intelektual balik layar.
Dulu saya pikir hanya Ahmad Wahib yang
begitu.
Gie dan kesendirian
Gie tumbuh
remaja dengan membaca “Di Bawah Bendera Revolusi”-nya Soekarno, tokoh yang juga
lahir di zaman yang salah, kemudian memimpin dan terjebak dengan kebesaran diri
sendiri. Soemitro, aktivis bawah tanah Gemsos, underbouw Partai Sosialis Indonesia yang diberangus Soekarno, hampir-hampir menjadi teman ideal bagi Gie. Tapi
sayang Gie dikecewakan dengan kemunafikan Mitro. *Soemitro di kemudian hari menikahkan
anaknya, Bambang Soedibyo, dengan anak Soeharto*
Akhirnya hanya
buku-buku dan pikiran-pikiran saja yang tetap setia menemani Gie. Orang-orang
datang dan pergi. Ketika dunia sudah gila semua, Gie memilih setia dengan
idealismenya. Dan itu sama sekali tidak mudah.
Gie, Ira dan … gadis pop
Gie dan Ira
mungkin cocok. Tapi zaman itu pernikahan pribumi dan Tionghoa tidak lazim. Gie
mungkin dilahirkan di zaman yang salah atau memang secara agama itu cinta yang
salah. Maka bisa dimaklumi Gie sendiri tidak leluasa memaklumatkan cintanya.
Sungguh rumit.
Dan ketika Santi,
seorang gadis Tionghoa, masuk begitu saja dalam
hidupnya, Gie mencoba menerima hadirnya. Tapi saya dapat dengan mudah menduga
bahwa Santi dan Gie tidak cocok. Santi menghadirkan citra pop dan Gie idealis
yang sedikit banyak mempunyai kecenderungan sosialis. Pop mencitrakan
kapitalisme dan Gie mencitrakan sikap anti kemapanan. Ira, diujung lain,
mencerminkan asketisme yang juga dianut Gie. Ira bukannya tak tahu Gie
menganggapnya lebih dari sekedar teman, tapi sekali lagi, hampir bisa
dipastikan itu cinta yang salah di zaman yang salah.
Tapi Gie mencoba
memaklumi Santi. Lebih tepatnya memaafkan perbedaan-perbedaan yang ada diantara
mereka. Baginya ini mungkin sebuah test
case. Kali ini test case-nya tidak di dunia pergerakan, tapi di kehidupan pribadi Gie. Ia berusaha menembus batas-batas ketidakmungkinan dalam hubungannya dengan Santi. Bukankah ilmu berkembang bersama keberanian menembus horizon pengetahuan itu sendiri ?
Sayangnya Santi tidak mampu mencapai Gie. Yang dicintainya
citra heroik Gie, dan sayangnya amat artifisial, tidak lebih. Dan lagi orang tua Santi tidak bisa
memaafkan sikap asketik dan idealis yang membentuk heroisme Gie.
Hey… segitu
rumitnya ! Riri sampai perlu menampilkan tertawa Gie yang sumbang di pagar rumah
Ira. Gie sendiri sampai menuliskan dalam diarinya bahwa mereka kagum dengan
heroisme Gie, mengelu-elukan, memujinya setinggi langit, tapi ketika anak
mereka ia pinta jadi pendamping hidupnya, mereka bilang itu soal lain.
Adegan ciuman, dan “buku, pesta dan cinta”
Oh.. plz dech..
apa setiap film wajib memasukkan “buruan cium gue” agar bisa dianggap bagus.
Saya tidak yakin itu pernah terjadi dalam hidup Gie. Tapi menilik bahwa Gie
tidak berpegang pada suatu norma yang definitif kecuali idealismenya, ciuman
mungkin ada dalam hidup Gie. Tapi sekali lagi Gie itu asketik. Ia mungkin
radikal, bicara dan menulis dengan amat keras, tapi tetap saja ia rikuh
berduaan dengan seorang gadis.
Buku, pesta dan
cinta syukurnya hanya ditampilkan sekilas dalam film GiE. Dan jangan bayangkan
seberapa dalam Gie menyukai pesta. Gie asketik, penyendiri, pencandu buku, dan
anti kemapanan. Pesta mungkin hanyalah sikap hormat Gie pada teman-temannya,
caranya untuk berbagi, dan belajar bersenang-senang.
Gie, Mama dan Baba
Gie, sebesar
apapun, tetap saja bocah kecil bagi Mamanya. Saya pikir itu manusiawi. Meski
zaman berubah, Gie berubah, Mamanya tak pernah berubah caranya memandang Gie.
Babanya, yang hampir anonim di film ini, adalah pengaruh besar dalam hidup Gie
dan Djien. Dua-duanya menjadi intelektual, meski dengan cara berbeda.
Gie, Katolik …?
Saya baru tahu
kalo orang-orang menganggap Gie penganut Katolik. Gie memang bersekolah di Kanisius.
Tapi itu tidak serta merta berarti Gie katolik, kan ? Saya berani mengatakan Gie itu atheis. Gie tidak mengasosiasikan dirinya
dengan PMKRI atau organisasi pembauran Tionghoa. Gie tidak menyukai sesuatu
apapun yang berbau golongan. Satu-satunya yang dekat dengan Gie adalah MAPALA
UI, organisasi yang profan. Mungkin kecendrungan sosialis atau idealisme Gie yang menjadi batu pijakan
hidupnya. Saya pikir ini wajar saja untuk Gie yang Tionghoa. Dan saya rasa
meski Gie tak kelihatan beragama, secara natural ia penganut KongHuCu.
Dramatic Ending or Smooth Ending ?
Ending apakah
yang kita ingin bagi film Gie ? Happy tentu saja tidak tepat karena Gie mati
muda (intellectual abortus). Dramatic
or smooth ? Yang berdarah-darah atau menangis darah atau ending yang mendarat
dengan lembut, empuk tapi tetap syahdu ?
Ternyata Riri
memilih smooth. Luar biasa ! Dan Ira
kemudian didaulat sebagai tokoh yang cocok menutup kisah ini. Saya kira itu
pilihan yang amat bagus. Karena sesendiri apapun Gie, ia tetap saja manusia
yang butuh seseorang tempat berlabuh. Dan berlabuh adalah ungkapan yang tepat untuk
mengakhiri suatu perjalanan.
Saya jadi ingat
Cak Nur. Apa jadinya Cak Nur tanpa istrinya Omi Komariah ?
Sebagaimana film
ini diawali dengan baik, Riri menutupnya dengan amat baik. Riri berhasil ! [ ]
+ Resensi ini
ditulis tanpa mengintip resensi orang lain. Referensi hanya ingatan tentang Catatan Gie,
bukunya, dan wawancara kakak-kakak Gie di salah satu stasiun tv.
++ Kenapa sih idola saya banyak dari orang Sejarah ? Apa saya harusnya milih kuliah di jurusan Sejarah ? Saya memang retrospektif tapi itu tidak berarti saya selalu hidup di masa lalu. Saya juga senang futurolog macam Sudjatmoko, Yasraf, Toffler, Naisbitt dkk. Lagian kuliah di Ekonomi ini juga karena dihasut Kuntowijoyo.
+++ Duh, saya begitu menyukai Sita jauh sebelum film ini. Karakter pribadinya bagus. Ia layak memerankan tokoh Ira. Angkat topi dech buat Sita. Pokoknya kalo Sita maen pilem saya tonton dech.
++++ Thanks to Mela for VCD of GiE: junior (Akt 2003) + anak kos gw yang cantik + pintar + cerdas
+ aktivis HMI + sedikit Ira + sedikit Santi + yang sayangnya sering kepergok berwajah bloon alias ngangak. Terutama saat masa ujian dan kalo minta tolong. Hey gadis
kecil, yang benar kalau minta tolong yaa dengan wajah memelas


bang masukin gbr di blogs,,,,gimanaaa,,,tuhhh,,,,ajarinn,,,dooong,,,plllzzzz[-o